MAKALAH REPRODUKSI I
“ KELUARGA BERENCANA”
DISUSUN OLEH:
(
Kelompok 10)
1. Dyndi
Ariani P (
131.0009 )
2. Eka
Wahyu Diningrat ( 131.0033 )
3. Farida
Septiani (
131.0035 )
4. Rochmatun
Nikmah ( 131.0085 )
5. Sunardi
Efendi ( 131.0095 )
PROGRAM STUDI S1 - KEPERAWATAN
STIKES HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat allah SWT karena berkat limpahan
karunianya kami dapat menyusun makalah dengan judul “ Keluarga
Berencana ” dengan baik. Makalah ini disusun secara
sistematis mengenai uraian singkat tentang Definisi KB, Tujuan Program KB, Sasaran Program
KB, Ruang Lingkup Program KB, Strategi, pendekatan, dan cara operasional
program pelayanan KB, Dampak program KB terhadap pencegah kelahiran, Jenis-
jenis dan Asuhan Keperawatan dengan aseptor keluarga berencana.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat
dan dapat menambah wawasan luas atau
ilmu pengetahuan bagi para pembaca. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah
ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharap saran dan kritik
yang membangun dari pembaca.
Surabaya,
07 Maret 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latarbelakang............................................................................................................... 1
1.2.Rumusa Masalah.......................................................................................................... 2
1.3.Tujuan Penelitian......................................................................................................... 2
1.4.Manfaat Penelitian....................................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Program Keluarga Berencana.................................................................................... 3
2.1.1
Tujuan Program KB....................................................................................... 3
2.1.2
Sasaran Program
KB..................................................................................... 3
2.1.3
Ruang Lingkup
Program KB......................................................................... 4
2.1.4
Strategi,
pendekatan, dan cara operasional program pelayanan KB.............. 4
2.1.5
Dampak program
KB terhadap pencegah kelahiran...................................... 5
2.1.6
Dampak program
KB terhadap pencegah kelahiran...................................... 6
2.2 Jenis-jenis Kontrasepsi............................................................................................
7
2.2.1
Metode Sederhana........................................................................................ 7
2.2.2
Metode Modern............................................................................................ 9
2.2.3
Metode Operasi............................................................................................ 15
2.3
Asuhan
Keperawatan dengan aseptor keluarga berencana...................................... 17
BAB 3 PENUTUP
3.1.Kesimpulan............................................................................................................. 20
3.2.Saran....................................................................................................................... 20
Daftar Pustaka
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak
. Agar mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternative
untuk mencegah ataupun menunda kehamilan . Cara- cara tersebut
diantaranya termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan
keluarga .
Sekitar 60% penduduk Indonesia mendiami pulau jawa yang luasnya hanya 6,88
% dari seluruh wilayah Indonesia. Persebaran penduduk yang tidak merata
menyebabkan sangat timpang.
Keluarga berencana merupakan salah satu pelayanan kesehatan prenvetif yang
paling dasardan utama bagai wanita .Meskipun tidaak selalu diakui
demikian, peningkatan dan perluasan KB merupakan salah satu usaha
untuk menurunkan angka kesakitan dan kematiaan ibu yang sedemikian tinggi
akibat kehamilan yang dialami oleh wanita . Banyak wanita yang harus menentukan
pemilihan alat kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah
metode yang tersedia tetapi juga metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima
sehubungan dengan kebijakan nasional KB . Kesehatan individual , dan
seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi .
Sebelum ibu memilih alat kontrasepsi sebaiknya mencari informasi
terlebih dahulu tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang lengkap benar
dan akurat. Semua metode kontrasepsi mempunyai efek samping yang harus
diketahui akseptor sebelum memakainya .Ada bermacam-macam jenis
kontrasepsi yang ada sehingga ibu harus menetukan pilihan kontrasepsi yang
dianggap sesuai.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana progam keluarga berencana
1.2.2. Bagaimana Jenis-jenis keluarga berencana
1.2.3. Bagaimana Asuhan keperawatan dengan aseptor
keluarga berencana
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1.
Mendeskripsikan
progam keluarga berencana
1.3.2.
Mendeskripsikan
Jenis-jenis keluarga berencana
1.3.3.
Mendeskripsikan
Asuhan keperawatan dengan aseptor keluarga berencana
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1.
Menambah
pengetahuan Mendeskripsikan progam keluarga berencana
1.4.2.
Mengertahui
Jenis-jenis keluarga berencana
1.4.3.
Mengetahui
Asuhan keperawatan dengan aseptor keluarga berencana
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
PROGAM KELUARGA BERENCANA
2.1.1.
Beberapa Definisi tentang KB
Upaya peningkatan kepedulian masyrakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia sejahtera (Undang-undang No 10/1992)
Keluarga berencana
(family planing/planned parenhootd) merupakan suatu usaha menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.
Menurut WHO (Expert Committe, 1970)
tindakan yang membantu individu/pasutri untuk mendapatkan objektif-objektif
tertentu, menghindari kelahiran yang tidak di inginkan, mendapatkan kelahiran
yang di inginkan, mengatur interval di antara kehamilan, dan menentukan jumlah
anak dalam keluarga.
Kontrasepsi adalah praktik pencegahan
fertilitas yaitu kemampuan untuk menghasilkan atau memproduksi anak. Semua
metode kontrasepsi utama adalah teknik untuk menghindari kehamilan yang tidak
diinginkan. Setiap metode memiliki pembedaan yang besar dalam keamanan dan
keefektifannya serta memiliki kelebihan dan kekurangan.
2.1.2. Tujuan Program KB
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga
kecil sesuai dengan ketentuan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara
pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera
yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran
, pendewasaan usia perkawinan , peningkatan kesehatan dan kesejahteraaan
keluarga. Hal ini sesuai dengan teori pembangunan menurut Alex Inkelas dan
David Smith yang mengatakan bahwa pembangunan bukan sekedar perkara pemasok
mengembangkan sarana yang berorientasi pada masa sekarang dan masa depan,
memiliki kesanggupan untuk merencanakan, dan percaya bahwa manusia dapat
mengubah alam, bukan sebaliknya.
2.1.3. Sasaran Program KB
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009
1.
Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan
penduduk menjadi 1,14% pertahun.
2.
Menurunnya angka kelahiran total (TFR)
menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3.
Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak
lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai
alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4.
Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi
4,5%.
5.
Meningkatanya penggunaan metode
kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6.
Meningkatnya rata-rata usia perkawinan
pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7.
Meningkatnya partisipasi keluarga dalam
pembinaan tumbuh kembang anak.
8.
Meningkatnya jumlah keluarga persejahtera
dan keluarga sejahtera 1 yang aktif dalam usaha rkonomi produktif.
9.
Meningkatnya jumlah institusi masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan program KB Normal.
2.1.4. Ruang Lingkup Program KB
Ruang lingkup program KB mencakup sebagai
berikut.
1.
Ibu
Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran.
Adapun manfaat yang diperbolehkan oleh ibu adalah sebagai berikut.
a.
Tercegahnya kehamilan yang berulang kali
dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat
terpelihara terutama kesehatan organ produksinya.
b.
Meningkatkan kesehatan mental dan
sosialyang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak
dan beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut memang di
inginkan.
2.
Suami
Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat
melakukan hal berikut:
a.
Memperbaiaki kesehatan fisik.
b.
Mengurangi beban ekonomi keluarga yang
ditanggungnya.
3.
Seluruh keluarga.
Dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan
sosial setiap anggota keluarga; dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang
lebuh besar dalam hal pendidikan serta kasih sayang ornag tua.
Ruang lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut.
1.
Keluaraga berencana.
2.
Kesehatan reproduksi remaja.
3.
Kesehatan dan pemberdayaan keluarga.
4.
Penguatan pelembagaan keluaraga kecil
berkualitas.
5.
Keserasian kebijakan kependudukan.
6.
Pengelolaan SDM aparature.
7.
Penyelanggaraan pimpinanan kenegaraan dan kepemerintahan.
8.
Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas
aparataur negara.
2.1.5. Strategi, pendekatan, dan cara operasional program pelayanan KB
Dalam hal ini pelayanan
kontrasepsi, diambil kebijaksanaan sebagai berikut.
1.
Perluasan jangkauan pelayanan kontrasepsi
dengan cara menyediakan sarana yang bermutu dalam jumlah yang mencakupi dan
merata.
2.
Pembinaan mutu pelayanan kontrasepsi dan
pengayoman medis.
3.
Pelembagaan pelayanan kontrasepsi mandiri
oleh masyarakat dan pelembagaan keluarga kecil sejahtera.
Dalam hal strategi pelayanan kontrasepsi di bantu pokok-pokok berikut.
1.
Menggunakan pola pelayanan kontrasepsi
rasional sebagai pola pelayanan kontarasepsi kepada masyrakat, berdasarkan
kurun reproduksi sehat.
2.
Pada usia 20 tahun di anjurkan menunda
kehamilan dengan menggunakan pil KB, AKDR, kontrasepsi suntik, susuk,kondom,
atau intravagina.pada usia 20-30 tahun di ajurkan untuk menjarangkan kehamilan.
3.
Menyediakan sarana dan alat kontrasepsi
yang bermutu dalam jumlah yang cukup dan merata.
4.
Meningkatkan mutu pelayanan kontrasepsi.
5.
Menumbuhkan kemndirian masyrakat dalam
mendapatkan pelayanan kontrasepsi maupun dalam mengelola pelayanan kontrasepsi.
Untuk mencapai sukses yang diharapkan, maka di tempuh strategi tiga
dimensi, yaitu sebagai berikut:
1.
Perluasan jangkauan.
Semua jajaran pembangunan diajak berperan serta dalam ikut menangani
program KB dan mengajak semua PUS yang potensial untuk menjadi ekseptor KB.
2.
Pembinaan.
Organisasi yang sudah mulai ikut serta menangani program diajak berperan
serta mendalami lebih terpinci tentang apa yang terjadi, dan diberikan
kepercayaan untuk ikut menangani program KB dalam lingkungannya sendiri,
menjadi petugas sukarela, dan mulai dikenalkan mengenai program-program pos KB,
posyando,pembinaan anak-anak, dan sebagainya.
3.
Pelembagaan dan pembudayaan
Tahap awal KB mandiri yaitu masyrakat akan mencapai suatu tingkat
kesadaran.
2.1.6.
Dampak program KB terhadap pencegah
kelahiran
Progaram KB bertujuan untuk memenuhi permitaan pelayanan KB dan
menyelanggrakan pelayananan kesehatan reproduksi yang berkualitas, serta
mengendalikan angkat kelahiran yang padaakhirnya akan meningkatkan kualitas
pendududk dan mewujudkan keluarga-keluarga kecil berkualitas.sasaran utama
kenerja program KB adalah sebagai berikut.
1. Menurunnya pasanagan usia subur (PUS) yang ingin melaksanakan KB namun
pelayanan KB tidak terlayani (unmet need) menjadi sekitar 6,5%.
2. Meningkatnya partisipasi laki-laki dalam melaksanakan KB menjadi sekitar
8%.
3. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi 2,4% per perempuan.
Hal ini memungkinkan perempuan untuk menghindari kehamilan ketika mereka
tidak ingin hamil, merencanakan kehamilan ketika mereka melakukan dan mendorong
kesehatan mereka sendiri; sehingga dalam prosesnya akan menghasilkan kesehatan
yang signifikan , serta mamfaat ekonomi dan sosial bagi individu perempuan itu
sendiri,keluarga, komunitas, dan keseluruhan masyrakat.
2.2
JENIS-JENIS KONTRASEPSI
2.2.1
Metode Sederhana
1.
Cara lain untuk mengendalikan
fertilitas adalah melalui uji klinik. Uji klinis meliputi kontrasepsi hormonal
untuk pria, cincin intravagina pelepas hormon, dan metode imunologis seperti
vaksin antifertilitas. ( Sloane, Ethel.
Anatomi dan fisiologi untuk pemula. 2012. Jakarta. EGC )
2.
Pantang Berkala.
a. Metode kalender : Sistem
berkala Kegagalan 15-20 %.
Metode ini digunakan prinsip pantang berkala, yaitu
tidak melakukan masa subur istri. Untuk menentukan masa subur istri
digunakan 3 patokan:
·
Ovulasi terjadi 14 hari kurang
lebih sebelum haid yang akan datang
·
Sperma dapat hidup selama 48 jam setelah
ejakulasi
·
Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi
Apabila konsepsi ingin
dicegah koitus harus dihindari sekurang – kurangnya selama tiga har(
72 jam ), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam setelah ovulasi . Metode ini
hanya digunakan pada wanita yang daur menstruasinya teratur.
b. Sistem suhu basal.
Penurunan suhu basal setian ½ -1 derajat celcius, pada hari
12-13 menstruasi. Setelah menstruasi suhu akan naik lebih dari suhu basal
sehingga siklus menstruasi yang disertai ovulasi terdapat temperatur bifasik.
3.
Senggama terputus.
Konsep senggagama terputus adalah
mengeluarkan kemaluan menjelang terjadinya ejakulasi.
Kekurangan : Mengganggu kepuasan, Kegagalan sekitar 30-35%.
4.
Kondom.
Kondom melapisi penis pada saat ereksi untuk
menangkap semen yang terejakulasi dan mencegahnya memasuki vagina. Kondom juga
dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
Cara kerja : menampung sperma sehingga tidak masuk ke
kanalis serviks.
Kerugian :
a.
Kenikmatan terganggu.
b.
Alergi.
c.
Sulit dipasarkan pada
yang berpendidikan.
Keuntungan :
a.
Murah.
b.
Mudah didapat.
c.
Tidak memerlukan
pengawasan medis.
d.
Berfungsi ganda.
5.
Spermiside
Adalah zat kimia yang dapat
melumpuhkan serta mematikan spermatozoa yang digunakan menjelang seks
dapat dilakukan agar spermiside dapat berfungsi.
Kekurangan spermiside :
a.
Merepotkan menjelang
hubungan senggama.
b.
Nilai kepuasan
berkurang.
c.
Dapat menimbulkan
iritasi.
d.
Kejadian hamil tinggi
sekitar 30-35 % karena pemasangannya tidak sempurna atau terlalu cepa melakukan
senggama.
2.2.2
Metode Modern
1.
Pil.
Kontrasepsi oral ( Pil pengendalian
kelahiran ) adalah gabungan estrogen sintesis dan progresteron sintesis yang
dikonsumsikan perempuan selama 21 hari siklus mentruasi.
a. Pil
pengendali kelahiran menghalangi ovulasi, mungkin dengan menekan LH.
b. Efek
sekunder pil adalah perubahan transpor tubal dan perubahan endometrial yang
menghalangi implantasi. Pil berdosis rendah bekerja melalui efek sekunder ini
tanpa harus menghalangi ovulasi.
Norplant adalah implan progesteron
sintesis subdermal yang memberikan kontrasepsi selama lima tahun.
Depoprovera adalah kontrasepsi yang
dapat diinjeksikan. Injeksi tunggal progresteron sintesis 150 mg memberikan
kontrasepsi selama tiga bulan. Norplant dan depoprovera mengakibatkan efek
samping seperti pendarahan ireguler, berat badan turun, sakit kepala, atau
mual.
Mekanisme kerja :
Komponen progesterone menghambat ovulasi, mengubah
endometrium, mengentalkan lendir serviks, menghambat peristaltik tuba,
menghindari implantasi.
Keuntungan pil :
a.
Bila sesuai dan
teratur kberhasilan 100 %.
b.
Dapat dipakai untuk
pengobatan.
c.
Dapat meningkatkan
libido.
Kerugian pil :
a.
Harus minum secara
teratur.
b.
Dalam waktu panjang
menekan fungsi ovarium.
c.
Penyulir ringan : BB
bertambah, rambut rontok, tumbuh acne, mual muntah.
d.
Mempengaruhu fungsi
hati dan ginjal.
Macam pil :
a.
Pil kombinasi :
progesterone dan estrogen.
b.
Pil sekuensial :
Mengandung komponen yang disesuaikan dengan sistem hormonal
tubuh.
12 pil pertama hanya mengandung estrogen.
Pil ke – 13 dan seterusnya mrupakan kombinasi.
Sistem kemasan pil :
a.
Sistem 28 : diminum
terus tanpa berhenti.
b.
Sistem 22/21 :
berhenti minum pil selama 7 – 8 hari dengan mendapat menstruasi.
Petunjuk pemakaian pil :
a.
Minumlah pil dengan
teratur.
b.
Bila lupa, maka pil
harus diminum menjadi 2 buah.
c.
Bila perdarahan, tidak
memerlukan perhatian belum beradaptasi.
d.
Gangguan ringan ( mual
muntah atasi ).
Waktu mulai penggunaan pil :
a.
Pada post partum dapat
mulai dengan expluton yang mengandung komponen progesterone.
b.
Post abortus atau hari
ke – 5 menstruasi.
c.
Ganti cara pemakaian
kontrasepsi :
Segera dapat mulai minum pil, dapat kombinasi atau
sekuensial.
Waktu pemberhentian minum pil :
a.
Bila ada pembekuan
darah.
b.
Kemungkinan degenerasi
ganas.
c.
Romboplebitis.
d.
Kehamilan.
2.
Suntik
Kontrasepsi ini disuntik
pada pantat atau bokong sebelah kanan atau kiri 1 atau 3 bulan sekali
tergantung jenis suntikan.
Macam :
a.
Deproprovera :
medroxyprogestero aceta 50 mg.
b.
Cycloferm :
medroxyprogestero aceta 50 mg dan komponen estrogen.
c.
Norigest 200 mg :
derivate testosterone.
Mekanisme kerja suntikan :
a.
Menghalangi
pengeluaran FSH dan LH.
b.
Mengentalkan lendir
serviks.
c.
Perubahan peristaltik
tuba falopi.
d.
Perubahan suasana
endometrium.
Keuntungan :
a.
Pemberiannya
sederhana.
b.
Tingkat efektifitasnya
tinggi.
c.
Hubungan seks bebas.
d.
Pengawasan medis
ringan.
e.
Dapat diberikan pasca
persalinan, pasca keguguran, pasca menstruasi.
f.
Tidak mengganggu
laktasi dan tumbang bayi.
g.
Suntikan KB syclon
diberikan setiap bulan dan mengalami menstruasi.
Kerugian :
a.
Perdarahan yang
tidak menentu.
b.
Amenore
berkepanjangan.
c.
Masih terjadi
kemungkinan hamil.
Waktu pemberian suntikan :
a.
Pasca persalinan :
segera ketika masih di RS, jadwal suntikan berikutnya.
b.
Pasca abortus : segera
setelah perawatan, jadwal waktu suntikn diperhitungkan.
c.
Interval : hari kelima
menstruasi, jadwal waktu diperhitungkan.
3.
Implan/susuk
Mekanisme kerja :
Setiap kapsul susuk KB 36 MG
levonorgestrel yang akan dikeluarkan setiap harinya sebanyak 80 mg. Konsep
mekanisme kerja sebagai progesterone yang dapat mengurangi pengeluaran LH
sehingga tidak terjadi ovulasi, mengentalkan lendir serviks, menghalangi
migrasi spermatozoa, perubahan suasana endometrium.
Keuntungan :
a.
Dipasang selama 5
tahun.
b.
Kontrol medis ringan.
c.
Dapat dilayani di daerah
pedesaan.
d.
Penyulit medis tidak
terlalu tinggi.
e.
Biaya ringan.
Kerugian
:
a.
Menimbulkan gangguan
menstruasi.
b.
Berat badan bertambah.
c.
Menimbulkan acne,
ketegangan payudara.
d.
Liang senggama terasa
kering.
Pencabutan
susuk KB :
a.
Metode standar.
b.
Tehnik U.
c.
Tehnik susuk ( Ma )
pencabutan susuk.
4.
Alat kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Intrauterine
device ( IUD ) dimasukkan ke rongga uterus. Mekanisme jelasnya dalam mencegah
kehamilan tidak diketahui, alat ini dipercaya mampu mengganggu implantasi ovum
yang telah dibuahi dengan cara mengubah lingkungan uterus. Di amerika serikat,
sebagaian besar IUD telah dikeluarkan dari pasaran karena efek sampingnya
merugikan.
Mekanisme
kerja
a. AKDR merupakan benda asing dalam
rahim sehingga menimbul reaksi benda asing dengan timbunan leokosit.
b. Menimbulkan perubahan pengeluaran
cairan, prostaglandin, yang menghalangi kepastian spermatojoa.
c. Pemadatan endometrium.
d. Gangguan gerak spermatozoa.
Keuntungan.
a. Dapat diterima masyarakat dengan
baik.
b. Pemasangan tidak sulit.
c. Kontrol medis ringan.
d. Penyulit tidak terlalu berat.
e. Pulihnya kesuburan setelah AKDR
dicabut berlangsung baik.
Kerugian.
a. Masih dapat terjadi kehamilan
dengan AKDR insitu.
b. Terdapat perdarahan.
c. Leokosit.
d. Infeksi.
e. Kemandulan primer, skunder, KET.
f. Tali AKDR dapat menimbulkan
perlukaan porsio uteri dan mengganggu hubungan seksual.
Waktu pemasanagan.
a. Bersamaan dengan menstruasi.
b. Segera setelah bersih menstruasi.
c. Akhir purperium.
d. Tiga bulan pasca persalinan.
e. Bersamaan dengan SC.
f. Hari ke 2-3 pasca persalinan.
Kontra indikasi pemasangan.
a. Terdapat infeksi genetalia.
b. Dugaan keganasan serviks.
c. Pendarahan dengan sebab yang
tidak jelas.
d. Pada kehamilan terjadi abortus,
mudah perforasi.
Jenis AKDR.
a. Lippes loop.
b. Cupper T.
c. Multi load.
Waktu pelepasan AKDR.
a. Ingin hamil kembali.
b. Leokorea.
c. Infeksi.
d. Pendarahan.
e. Terjadi kehamilan mengandung
bahan aktif dengan AKDR.
2.2.3
Metode Operasi
Sterilisasi bedah
·
Perempuan adalah
·
Pada laki-laki, Tubektomi (MOW)
Tubektomi adalah
kontrasepsi permanen wanita yang tidak menginginkan anak lagi yang bekerja
menghambat sel telur wanita sehingga tidak dapat dibuahi oleh sperma. Cara
kontrasepsi ini dipersiapkan melalui tindakan operasi kecil dengan mengikat dan
memotong sel tuba (telur) pada istri
Pada
perempuan Ligasi Tubal (pemotongan), kauterisasi atau pengikatan tuba uterin. saluran
telur diikat atau dijepit atau dipotong melalui operasi kecil.
Keuntugannya adalah: Pemakaian
atau perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat digunakan
seumur hidup, tidak mengganggu hubungan suami istri, tidak mengganggu produksi
ASI. Kerugiannya berupa: faktor resiko dan efek samping bedah.
a.
Vasektomi (MOP)
Cara kontrasepsi ini
dipersiapkan melalui operasi tindakan ringan dengan cara mengikat dan memotong
sel sperma (vas diferent) sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani tidak
mengandung spermatozoa, dengan demikian tidak terjadi pembuahan.
Pada
laki-laki prosedurnya disebut Vasektomi (pemotongan), kauterisasi atau
pengikatan duktus vas deferen.
Keuntungan dari
vasektomi adalah:
1) Tidak ada mortalitas (kematian)
2) Morbiditas (mengakibatkan sakit) kecil sekali
3) Dilakukan anastesi local, hanya kurang lebih 15 menit
4) Kemungkinan kegagalan tidak ada, karena diperiksa
kepastian laboratorium
5) Tidak mengganggu hubungan seksual dan cairan mani yang
dikeluarkan waktu coitus tidak berubah
6) Biaya murah
7) Dapat dilakukan dimana saja asal tempatnya bersih dan
tenang, tidak selalu harus di kamar mandi.
Efek samping vasektomi adalah: kulit membiru atau lecet, pembengkakan dan
rasa sakit, keadaan ini merupakan hal yang ringan dan akan hilang sendiri tanpa
pengobatan sederhana, gejala tersebut timbul sebagai akibat persiapan, teknik
dan perawatan yang kurang sempurna disamping factor penderita sendiri.
Penangulangannya adalah dengan pemberian antibiotika dan analgetik,
kemudian konsultasikan dengan ahli jiwa jika penderita mengalami gangguan
psikologis.
Kegagalan pada vasektomi dapat terjadi konsepsi
antara lain:
1) Kesalahan memotong
2) Cara mengikat tidak sempurna,
cepat atau terlalu keras
3) Duplikasi vas diferent (kelainan
bawaan)
4) Bersenggama sebelum sperma
betul-betul negatif
5) Adanya penyambungan kembali dari
ujung-ujung vas diferent yang dipotong.
Ciri-ciri.
a. Relatif
permanen.
b. Perlu
konseling yang mantap.
c. Dalam
jangka panjang relative murah, aman tanpa komplikasi.
Waktu
dilakukan kontap
a. Setelah
melahirkan.
b. Setelah
keguguran.
c. Bersamaan
dengan tindak aborsi.
d. Bersamaan
dengan op kandunagan.
e. Setiap
saat dikehendaki.
2.3 ASUHAN KEPERAWATAN dengan Aseptor Keluarga
Berencana.
1.
Pengertian
Anamnesa: identitas, status perkawinan, jumlah anak,
alasan datang ke klinik, menstruasi
trakhir, lama perkawinan, masalah dalam kehamilan, masalah setelah melahirkan,
alat kontrasepsi sebelumnya yang digunakan, masalah dalam menggunakan metode
kontarsepsi, riwayat sosial, riwayat kesehatan, pengetahuan klien tentang KB.
2. Diagnosa
keperawatan.
Kurang pengetahuan tentang kontrasepsi dan KB
berhubungan dengan kurang informasi, daya serap kurang.
3.
Prencanaan.
a) Kaji kedalam pengetahuan tentang KB dan
kontarsepsi.
b) Berikan pendidikan kesehatan tentang KB dan
kontrasepsi (metode, jenis, keuntungan kerugian, waktu pemakaian)
4.
Pelaksanaan.
Melakukan pendidikan kesehatan tentang KB dan
kontrasepsi (metode, jenis, keuntungan kerugian, waktu pemakaian)
Satuan acara pengajaran.
a. Pokok pembhasan
b. Sub pokok pembahasan
c. Waktu
d. Sasaran
e. Tempat
f. Tujuan intraksisosial Umum
g. Tujuan Instruktur Khusus
h. Kegiatan belajar mengajar
i. Metode
j. Evaluasi
Standar persiapan alat, pengaturan tempat, kesiapan
materi
Standar proses strategi PBM.
Standar hasil tolok ukur pencapain penkes pada sasaran
k. Pustaka
l. Lampiran leaflet
5. Evaluasi.
a. Formatif
b. Sumatif
BAB 3
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Menurut WHO tindakan yang membantu individu/pasutri untuk mendapatkan
objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak di inginkan,
mendapatkan kelahiran yang di inginkan, mengatur interval di antara kehamilan,
dan menentukan jumlah anak dalam keluarga
Jadi kontrasepsi adalah cara membatasi dan mengatur kelahiran pada keluarga
berencana. Tujuan kontrasepsi hanya satu yaitu membatasi atau mengatur
kelahiran keturunan dari keluarga berencana.
3.2.Saran
Salah satu cara
pemerintah untuk membatasi kenaikan angka penduduk adalah dengan pengunaan alat
kotrasepsi. Seharusnya pemerintah dan tenaka kesehatan lebih memberikan edukasi
atau penyuluhan pada masyarakat agar masyarakat mengerti kegunaan kontrasepsi.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyawati, Ari. (2013). Pelayanan keluarga Berencana. Jakarta : Salemba Medika
Depkes RI, 2000. Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Hamil Dalam Konteks Keluarga.Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan,
Jakarta
Sloane,
Ethel. 2012. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC
Departemen
Kesehatan RI. 2006. Buku kesehatan ibu dan anak. Jakarta : Departemen kesehatan
dan Japan international cooperation agency
